“bu,
apakah ibu membelikan es krim yang aku pesan?” tanya Genta saat melihat
ibunya memasuki dapur, ketika memasuki dapur ibunya membawa tiga buah
kantong plastik berwarna putih. Sebuah kalender tergantung di dinding
dapur, angka “dua” yang berukuran cukup besar terpampang bertanda awal
bulan. Hari itu ibunda Genta memang baru saja membeli keperluan bulanan
mereka, sedangkan Genta dan adiknya Tri menunggu di rumah. Genta adalah
anak laki-laki berumur sepuluh tahun, sedangkan adiknya baru berusia
enam tahun.
“pasti dong, mana mungkin ibu lupa.” Ibunda
Genta tersenyum seraya melirik anaknya. “asik, dimana bu es krimnya?
Biar aku taruh di lemari es.” Genta merayu seraya menoleh ke adiknya.
Mereka saling melempar tatapan dan senyuman nakal, ada sebuah rencana di
kepala mereka. “es krimnya di kantong plastik yang di atas meja makan,
ibu masukin kotak. Sebelum dimasukin ke lemari es, kamu buang dulu
kotaknya ya Genta.” Ibunya berkata tanpa menoleh ke arah Genta. “baik
bu.” Tutup Genta. Tanpa banyak bicara lagi Genta menarik adiknya menuju
meja makan, mereka segera mengeluar es krim dari kantong plastik yang
cukup besar. Genta-lah yang bertugas memindahkan sekotak es krim ke
dalam lemari es, ia sempat melirik ke arah adiknya seperti memberi
sebuah aba-aba. Tri segera berlari keluar dengan cepat tanpa
sepengetahuan ibunya, dan ketika Tri sudah menghilang, Genta pun
menyusul. Rencana mereka berhasil, ibunda Genta dan Tri tidak tahu
mereka membawa kotak yang ia gunakan untuk membawa es krim. Sesungguhnya
bukanlah kotak itu yang menarik perhatian kedua kakak beradik ini, tapi
isinya-lah yang menarik perhatian mereka.
Genta berlari ke teras, dimana Tri sudah
menunggunya. Ia memegang kotak yang cukup besar, dan tersenyum ke arah
kakaknya. Alih-alih menghampiri adiknya, Genta malah berlari ke sisi
rumah. Ia mengambil sebuah baskom plastik yang sudah tidak lagi
terpakai, dan ia mengisi air ke dalam baskom itu. setelah air yang ia
isi dirasa cukup, Genta membawa baskom berisi air itu ke Tri yang
menunggu di teras rumah. “nih airnya, yuk sekarang kita main.” Ujar
Genta dengan nada riang gembira. Tri memasukan tangannya ke dalam kotak,
ia merogoh-rogoh selama beberapa saat. Hingga akhirnya ia mengangkat
tangannya, ia menggenggam sesuatu. Sesuatu yang membuat mereka terlihat
sangat gembira, sesuatu yang biasa mereka mainkan saat ibu mereka
membelikan es krim. Tri memegang sebuah benda berwarna putih pucat, dan
berbentuk persegi panjang yang cukup besar. Tri sepertinya mengalami
kesulitan saat memegang benda itu, beberapa kali ia mengganti tangannya.
Ia merasakan sensasi dingin dan kesemutan di saat yang sama, tetapi
lama kelamaan ia merasa seperti terbakar. Dengan cepat ia memberikannya
kepada Genta, dan setelah menerimanya. Genta mengangkat tangannya dan
menjatuhkan benda itu hingga pecah menjadi beberapa bagian, ia
mengumpulkan pecahan-pecahannya. Dua buah pecahan besar, dan beberapa
yang kecil. Genta memberikan salah satu pecahan yang berukuran besar
kepada Tri, ia sangat senang menerimanya. Sesaat setelah ia menerima
benda itu, ia menaruhnya ke dalam baskom berisi air, ketika benda itu
menyentuh air. Benda itu menghasilkan gelembung-gelembung putih yang
ketika terpecah menghasilkan kabut. Tri sangat senang melihat itu,
beberapa kali ia meniup uap yang keluar dari dalam air. Ia tersenyum,
“asik ya kak kalo main biang es.” Ujarnya.
Sedangkan Genta hanya memegang-megang biang
es bagiannya, ia bosan memainkannya dengan air. Ia sedang memikirkan
cara baru, tapi ia tidak juga menemukannya. Lama kelamaan Genta
merasakan bosan, ia agak iri dengan adiknya yang terlihat sangat
bersenang-senang. Ide usilnya muncul tiba-tiba, ia menempelkan pecahan
kecil biang es miliknya ke leher adiknya.
Ketika biang es itu menyentuh kulit leher
Tri, ia menggerakan tangannya untuk menampik biang es yang menempel di
lehernya dengan cepat. “sakit kak.” Protes Tri. Tapi Genta semakin
senang melihat adiknya yang duduk di depannya marah-marah, saat Tri
berbalik badan. Ia kembali menempelkan biang es itu, dan seketika itu
kembali ditepis oleh Tri. “kakak. Sakit tau.” Nada suara Tri mulai naik,
ia sepertinya jengkel oleh ulah Genta. Kemudian ia kembali memainkan
kabut di baskom airnya. Genta benar-benar merasa bosan, ia bingung.
Sebuah ide muncul di kepalanya, ia mengambil pecahan biang es yang cukup
besar, lalu mengigit biang es itu. rasa geli menyeruak di giginya,
membuat tubuhnya merinding. Ternyata ia menyukai sensasi itu, ia
tertawa-tawa kecil. Tapi Tri sama sekali tidak menghiraukannya, ia masih
asik dengan mainannya sendiri. Tapi kemudian Genta kembali menempelkan
pecahan biang es yang berukuran kecil ke leher Tri, kesabaran Tri
sepertinya sudah habis. Ia menyikut Genta yang duduk di belakangnya
dengan keras, dan hantaman siku itu mengenai mulutnya yang sayangnya
membuat biang es yang ia gigit terlepas lalu meluncur ke dalam
tenggorokan Genta. Seketika itu Genta tersedak karena biang es itu
menempel di tenggorokannya, lapisan biang es yang sangat dingin
mencengkram kuat dinding tenggorokan Genta.
Genta tersentak ke belakang, tenggorokannya
seketika itu terasa tercekik. Ia tidak bisa berbicara, dan hanya bisa
meringis menahan rasa sakit hingga menghasilkan suara serak yang
putus-putus. Kedua tangannya terus memegangi lehernya, ia berusaha keras
menelan biang es itu. tapi sia-sia saja, air liurnya yang mengalir di
tenggorokannya justru membuat bias es itu mencengkram lebih kuat dan
berubah menjadi gas. Tri kaget mendengar suara serak yang keluar dari
mulut kakaknya, dan ketika ia berbalik ia menemukan kakaknya tengah
terduduk seraya memegangi lehernya. Tubuh Genta menggelepar tidak
terkendali, Tri mencoba menyelamatkan kakaknya. Tapi ia tidak tahu harus
berbuat apa, kakaknya sama sekali tidak bisa berbicara. Genta hanya
menatap dengan mata terbelalak, dan air mata mengalir pelan-pelan ke
pipinya. Bola mata Genta memerah, darah memenuhi bola matanya. Tri
mencoba menarik tangannya untuk melihat keadaan leher kakaknya, ketika
kedua tangan Genta terlepas. Ia sangat terkejut melihat leher Genta yang
sudah biru kehitam-hitaman, dan menggelembung. Beberapa urat-urat saraf
di leher Genta mulai terlihat berbayang di kulit lehernya yang
menghitam. Tangan Genta meraih-raih ke udara, sepertinya ia butuh
pertolongan. Bagaimana tidak, rasa sakit yang luar biasa menyebar ke
seluruh tubuhnya. rasa perih dan terbakar. Keringat Genta mengucur deras
membuat basah pakaiannya, ia sedang dalam perjuangan antara hidup dan
mati. Melihat hal itu Tri semakin ketakutan, tapi ia tidak bisa berpikir
apa-apa melihat kakaknya meregang nyawa. Pikiran anak perempuan itu
kosong, seluruh tubuhnya gemetaran melihat rasa sakit yang tergambar
dari bola mata kakaknya yang sudah dipenuhi darah. Penglihatan Genta
sudah mulai buram, ia tidak dapat melihat dengan jelas. Darah segar
keluar dan meletup-letup dari mulutnya, dan membasahi tubuh dan
pakaiannya. Sedangkan leher Genta semakin membesar, gas yang keluar dari
biang es yang berada di dalam lehernya membuat lehernya terus membesar.
Akibat kesulitan menelan, mulut Genta menghasilkan air liur yang
semakin banyak. Sayangnya hal ini membuat gas yang keluar dari biang es
itu semakin banyak. Leher Genta sudah terlihat sangat besar, kulitnya
terlihat semakin menipis karena tidak lagi bisa menahan gas di dalamnya.
Seperti balon yang terlalu banyak diisi udara. Tri hanya bisa
menggerak-gerakan tubuh kakaknya, dan itu tidak menolong apa-apa. Tangan
Genta meremas lengan Tri, ia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada
suara yang keluar dari mulutnya selain batuk akibat darah segar yang
mengalir deras dari dalam mulutnya.
Mungkin saat itu Genta bermaksud ingin mengatakan bahwa ia sudah tidak kuat lagi…
Leher Genta sudah berukuran sangat besar,
hingga akhirnya kulitnya tidak lagi dapat menahan. Suara ledakan yang
cukup kencang memecah kepanikan itu. darah dan potongan kulit menyembur
ke udara, dan mengenai Tri yang duduk di hadapan Genta. Leher Genta
meledak seperti balon yang ditusuk jarum, ledakan itu memuntahkan darah
segar dan serpihan-serpihan kulit leher Genta. Tubuh Tri gemetaran,
darah dan serpihan kulit leher Genta pelan-pelan menuruni wajahnya dan
menetes ke lantai. Jantung Tri berdetak kencang, dan napasnya
tersengal-sengal. Beberapa detik kemudian ia membuka matanya, dan
seketika itu ia tersentak ke belakang. Ia menemukan mayat kakaknya sudah
terbujur di lantai dengan leher yang hancur, ledakan itu meninggalkan
lubang besar di leher Genta. Memperlihatkan kerongkongannya yang hancur
berkeping-keping, Tri kemudian menoleh ke lantai. Ia menemukan jakun
kakaknya berdenyut-denyut di kubangan darah segar. kabut yang berasal
dari gelembung-gelembung biang es yang tenggelam dalam kubangan darah di
kerongkongan Genta membuat mayat Genta terlihat sangat artistik, namun
sayangnya hal itu membuat Tri berteriak semakin keras. Suara teriakan
yang begitu nyaring menggema di teras rumah mereka…
2 comments:
Bukan karangan gw yg pasti
Post a Comment