1.) Internet is an app that allows you to connected to the connection that make you can open google, firefox, or other app that works with the internet connection.
2.) Anti-Virus:
-Smadav
-Avira
3.) >do not use all capital, people might think you were upsets.
>do not tell something privacy
4.) Email allows you to send a messages from the internet that goes faster than the written messages
5.) a. Google Chrome
b. Firefox
Cheat Gloomba Quiz
02:04
level 1 : tekan bintang yang ada di pojok kanan atas
level 2 : tekan angka 2 di tulisan 'level 2'
level 3 : tekan huruf J di tulisan "poJok"
level 4 : klik tulisan carilah di batang bunga
level 5 tiny artinya kecil, tembak orang yang paling kecil
level 6 : drag tulisan sampah ke tempat sampah
level 7 : namanya kan gloomba quiz, cari tulisan gloomba terus di drag ke garis
level 2 : tekan angka 2 di tulisan 'level 2'
level 3 : tekan huruf J di tulisan "poJok"
level 4 : klik tulisan carilah di batang bunga
level 5 tiny artinya kecil, tembak orang yang paling kecil
level 6 : drag tulisan sampah ke tempat sampah
level 7 : namanya kan gloomba quiz, cari tulisan gloomba terus di drag ke garis
Bawang Putih & Bawang Merah
22:02
Bawang Merah dan Bawang Putih
Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.
Internet Definition
21:10
The Internet is a global system of interconnected computer networks that use the standard Internet protocol suite (TCP / IP) to serve billions of users worldwide. It is a network of networks that consists of millions of private, public, academic, business, and government networks, of local to global scope, that are linked by a broad array of electronic, wireless and optical networking technologies. The Internet carries an extensive range of information resources and services, such as the inter-linked hypertext documents of the World Wide Web (WWW) and the infrastructure to support email.
Most traditional communications media Including telephone, music, movies, and television are being reshaped or redefined by the Internet, giving birth to new services such as voice over Internet Protocol (VoIP) and Internet Protocol television (IPTV). Newspaper, book and other print publishing are adapting to Web site technology, or are reshaped into blogging and web feeds. The Internet has enabled and accelerated new forms of human interactions through instant messaging, Internet forums, and social networking. Online shopping has boomed both for major retail outlets and small artisans and traders. Business-to-business and financial services on the Internet Affect supply chains across entire industries.
The origins of the Internet reach back to research commissioned by the United States government in the 1960s to build robust, fault-tolerant communication via computer networks. The funding of a new U.S. backbone by the National Science Foundation in the 1980s, as well as private funding for other commercial backbones, led to worldwide participation in the development of new networking technologies, and the merger of many networks. The commercialization of what was by the 1990s an international network resulted in its popularization and incorporation into virtually every aspect of modern human life. As of June 2012, more than 2.4 billion people-over a third of the world's human population-have used the services of the Internet; approximately 100 times more people than were using it in 1995, when it was mostly used by tech-savvy middle and upper class people in the United States and several other countries.
The Internet has no centralized governance in either technological implementation or policies for access and usage; each constituent network sets its own policies. Only the overreaching definitions of the two principal name spaces in the Internet, the Internet Protocol address space and the Domain Name System, are directed by a maintainer organization, the Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN). The technical underpinning and standardization of the core protocols (IPv4 and IPv6) is an activity of the Internet Engineering Task Force (IETF), a non-profit organization of loosely affiliated international of participants that anyone may associate with by contributing technical expertise.
Terminologi
The Internet, referring to the specific global system of interconnected IP networks, is a proper noun and written with an initial capital letter. In the media and common use Often it is not capitalized, viz. the internet. Some guides specify that the word should be capitalized when used as a noun, but not capitalized when used as a verb or an adjective. The Internet is also Often Referred to as the Net.
Historically the word internet was used, uncapitalized, as early as 1883 as a verb and an adjective to refer to interconnected motions. Starting in the early 1970s the term internet was used as a shorthand form of the technical term internetwork, the result of interconnecting computer networks with special gateways or routers. It was also used as a verb meaning to connect together, especially for networks.
The terms Internet and World Wide Web are Often used interchangeably in everyday speech; it is common to speak of "going on the Internet" when invoking a web browser to view web pages.
History
History of the Internet began with the development of electronic computers in the 1950s. Community was first introduced to the concepts that will lead to the Internet when the message is sent through the computer science lab ARPANet of Professor Leonard Kleinrock at the University of California, Los Angeles (UCLA), after the second part of the network equipment installed at the Stanford Research Institute (SRI ). Packet switched networks such as ARPANET, Mark I at NPL in the UK, CYCLADES, Merit Network, Tymnet, and Telenet, were developed in the 1960s and early 1970s using a variety of protocols. ARPANET in particular led to the development of protocols for internetworking, where multiple separate networks could be joined together into a network of networks.
In 1982, Internet protocol (TCP / IP) is standard, and as a result, the concept of a worldwide network of interconnected TCP / IP networks, called the Internet, was introduced. Access to the ARPANET was expanded in 1981 when the National Science Foundation (NSF) developed the Computer Science Network (CSNET) and again in 1986 when NSFNET provided access to supercomputer sites in the United States from research and education organizations. Commercial Internet service providers (ISPs) began to emerge in the 1980s and early 1990s. ARPANET was decommissioned in 1990. Internet commercialized in 1995 when NSFNET disabled, eliminating the last restrictions on the use of the Internet to carry commercial traffic.
Since the mid-1990s, the Internet has had a revolutionary impact on culture and commerce, including the rise of near instant communication by electronic mail, instant messaging, Voice over Internet Protocol (VoIP) "phone calls", two-way interactive video calls, and the World Wide Web with discussion forums, blogs, social networking, and online shopping sites. Research and education community continues to develop and deploy advanced networks such as NSF's very high speed Backbone Network Service (vBNS), Internet2, and National LambdaRail. The increasing amount of data transmitted at higher speeds and higher over fiber optic networks operating at 1-Gbit / s, 10-Gbit / s, or more. Takeover of the internet landscape is almost instant global communication in terms of history: communicated only 1% of the information flowing through two-way telecommunication network in 1993, was 51% in 2000, and more than 97% of the information telecommunicated in 2007. Today the Internet continues to grow, driven by ever greater amounts of online information, commerce, entertainment, and social networking.
Most traditional communications media Including telephone, music, movies, and television are being reshaped or redefined by the Internet, giving birth to new services such as voice over Internet Protocol (VoIP) and Internet Protocol television (IPTV). Newspaper, book and other print publishing are adapting to Web site technology, or are reshaped into blogging and web feeds. The Internet has enabled and accelerated new forms of human interactions through instant messaging, Internet forums, and social networking. Online shopping has boomed both for major retail outlets and small artisans and traders. Business-to-business and financial services on the Internet Affect supply chains across entire industries.
The origins of the Internet reach back to research commissioned by the United States government in the 1960s to build robust, fault-tolerant communication via computer networks. The funding of a new U.S. backbone by the National Science Foundation in the 1980s, as well as private funding for other commercial backbones, led to worldwide participation in the development of new networking technologies, and the merger of many networks. The commercialization of what was by the 1990s an international network resulted in its popularization and incorporation into virtually every aspect of modern human life. As of June 2012, more than 2.4 billion people-over a third of the world's human population-have used the services of the Internet; approximately 100 times more people than were using it in 1995, when it was mostly used by tech-savvy middle and upper class people in the United States and several other countries.
The Internet has no centralized governance in either technological implementation or policies for access and usage; each constituent network sets its own policies. Only the overreaching definitions of the two principal name spaces in the Internet, the Internet Protocol address space and the Domain Name System, are directed by a maintainer organization, the Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN). The technical underpinning and standardization of the core protocols (IPv4 and IPv6) is an activity of the Internet Engineering Task Force (IETF), a non-profit organization of loosely affiliated international of participants that anyone may associate with by contributing technical expertise.
Terminologi
The Internet, referring to the specific global system of interconnected IP networks, is a proper noun and written with an initial capital letter. In the media and common use Often it is not capitalized, viz. the internet. Some guides specify that the word should be capitalized when used as a noun, but not capitalized when used as a verb or an adjective. The Internet is also Often Referred to as the Net.
Historically the word internet was used, uncapitalized, as early as 1883 as a verb and an adjective to refer to interconnected motions. Starting in the early 1970s the term internet was used as a shorthand form of the technical term internetwork, the result of interconnecting computer networks with special gateways or routers. It was also used as a verb meaning to connect together, especially for networks.
The terms Internet and World Wide Web are Often used interchangeably in everyday speech; it is common to speak of "going on the Internet" when invoking a web browser to view web pages.
History
History of the Internet began with the development of electronic computers in the 1950s. Community was first introduced to the concepts that will lead to the Internet when the message is sent through the computer science lab ARPANet of Professor Leonard Kleinrock at the University of California, Los Angeles (UCLA), after the second part of the network equipment installed at the Stanford Research Institute (SRI ). Packet switched networks such as ARPANET, Mark I at NPL in the UK, CYCLADES, Merit Network, Tymnet, and Telenet, were developed in the 1960s and early 1970s using a variety of protocols. ARPANET in particular led to the development of protocols for internetworking, where multiple separate networks could be joined together into a network of networks.
In 1982, Internet protocol (TCP / IP) is standard, and as a result, the concept of a worldwide network of interconnected TCP / IP networks, called the Internet, was introduced. Access to the ARPANET was expanded in 1981 when the National Science Foundation (NSF) developed the Computer Science Network (CSNET) and again in 1986 when NSFNET provided access to supercomputer sites in the United States from research and education organizations. Commercial Internet service providers (ISPs) began to emerge in the 1980s and early 1990s. ARPANET was decommissioned in 1990. Internet commercialized in 1995 when NSFNET disabled, eliminating the last restrictions on the use of the Internet to carry commercial traffic.
Since the mid-1990s, the Internet has had a revolutionary impact on culture and commerce, including the rise of near instant communication by electronic mail, instant messaging, Voice over Internet Protocol (VoIP) "phone calls", two-way interactive video calls, and the World Wide Web with discussion forums, blogs, social networking, and online shopping sites. Research and education community continues to develop and deploy advanced networks such as NSF's very high speed Backbone Network Service (vBNS), Internet2, and National LambdaRail. The increasing amount of data transmitted at higher speeds and higher over fiber optic networks operating at 1-Gbit / s, 10-Gbit / s, or more. Takeover of the internet landscape is almost instant global communication in terms of history: communicated only 1% of the information flowing through two-way telecommunication network in 1993, was 51% in 2000, and more than 97% of the information telecommunicated in 2007. Today the Internet continues to grow, driven by ever greater amounts of online information, commerce, entertainment, and social networking.
Enid Mary Blyton
21:01
Enid Mary Blyton was also known as Mary Pollock or Enid Blyton. Enid Blyton was a British children's writer, She is noted for numerous series of popular books based on recurring characters and designed for different age book. One of her popular books is the series of 'Lima Sekawan', 'Secret Seven', 'Pasukan Mau Tahu', and some others. Enid Blyton born at 11 August 1897, Lordship Lane, Southwark. Died on 28 November 1968 Hampstead.
From 1907 to 1915, Enid Blyton was educated at St. Christopher's School in Beckenham leaving as head girl. She enjoyed physical activities along with some academic work, but not maths.
Blyton was a talented pianist, but gave up her musical studies when she trained as a teacher (at Ipswich High-School).
Enid Blyton married with Major Hugh Alexander Pollock on 28 August 1924, They had 2 children:
~ Gillian Mary Baverstock (Born on 15 July 1931 – Died on 24 June 2007)
&
~ Imogen Mary Smallwood (born on 27 October 1935).
They live in a house named Green Hedges
This is where the Couple live before they had a child.
By 1939 her marriage to Pollock was in difficulties, and she began a series of affairs. In 1941 she met Kenneth Fraser Darrell Waters, a London surgeon with whom she began a relationship. During her divorce, Enid Blyton blackmailed Pollock into taking full blame for the failure of the marriage, knowing that exposure of her adultery would ruin her public image. She promised that if he admitted to charges of infidelity, she would allow him unlimited access to their daughters. However, after the divorce, Pollock was forbidden to contact his daughters, and Blyton ensured he was unable to find work in publishing afterwards. He turned to drinking heavily and was forced to petition for bankruptcy.
Blyton and Darrell Waters married (at the City of Westminster) Register Office on 20 October 1943, and then she change the surname of her daughter to Darrell Waters. Enid Blyton's second marriage was very happy, living with him and her two daughters at Green Hedges.
Enid Blyton's husband died in 1967. During the following months, she became increasingly ill. Enid Blyton was moved into a nursing home three months before her death; she died at the Greenways Nursing Home, London, on 28 November 1968, aged 71 years and was cremated at the Golders Green Crematorium where her ashes remain.
Enid Blyton's home, Green Hedges, was sold in 1971 and demolished in 1973. The area where Green Hedges once stood is now occupied by houses and a street called Blyton Close.
~ Her daughter Imogen has been quoted as saying "The truth is Enid Blyton was arrogant, insecure, pretentious, very skilled at putting difficult or unpleasant things out of her mind, and without a trace of maternal instinct. As a child, I viewed her as a rather strict authority. As an adult I pitied her."
~ Her elder daughter, Gillian, did not hold the same view toward their mother, and Imogen's biography of Blyton contains a foreword by Gillian to the effect that her memories of childhood with Enid Blyton were mainly happy ones.
From 1907 to 1915, Enid Blyton was educated at St. Christopher's School in Beckenham leaving as head girl. She enjoyed physical activities along with some academic work, but not maths.
Blyton was a talented pianist, but gave up her musical studies when she trained as a teacher (at Ipswich High-School).
Enid Blyton married with Major Hugh Alexander Pollock on 28 August 1924, They had 2 children:
~ Gillian Mary Baverstock (Born on 15 July 1931 – Died on 24 June 2007)
&
~ Imogen Mary Smallwood (born on 27 October 1935).
They live in a house named Green Hedges
By 1939 her marriage to Pollock was in difficulties, and she began a series of affairs. In 1941 she met Kenneth Fraser Darrell Waters, a London surgeon with whom she began a relationship. During her divorce, Enid Blyton blackmailed Pollock into taking full blame for the failure of the marriage, knowing that exposure of her adultery would ruin her public image. She promised that if he admitted to charges of infidelity, she would allow him unlimited access to their daughters. However, after the divorce, Pollock was forbidden to contact his daughters, and Blyton ensured he was unable to find work in publishing afterwards. He turned to drinking heavily and was forced to petition for bankruptcy.
Blyton and Darrell Waters married (at the City of Westminster) Register Office on 20 October 1943, and then she change the surname of her daughter to Darrell Waters. Enid Blyton's second marriage was very happy, living with him and her two daughters at Green Hedges.
Enid Blyton's husband died in 1967. During the following months, she became increasingly ill. Enid Blyton was moved into a nursing home three months before her death; she died at the Greenways Nursing Home, London, on 28 November 1968, aged 71 years and was cremated at the Golders Green Crematorium where her ashes remain.
Enid Blyton's home, Green Hedges, was sold in 1971 and demolished in 1973. The area where Green Hedges once stood is now occupied by houses and a street called Blyton Close.
~ Her daughter Imogen has been quoted as saying "The truth is Enid Blyton was arrogant, insecure, pretentious, very skilled at putting difficult or unpleasant things out of her mind, and without a trace of maternal instinct. As a child, I viewed her as a rather strict authority. As an adult I pitied her."
~ Her elder daughter, Gillian, did not hold the same view toward their mother, and Imogen's biography of Blyton contains a foreword by Gillian to the effect that her memories of childhood with Enid Blyton were mainly happy ones.
Caterpillar on the Monitor
16:09
When computer lesson, me and my friend on my left knew that friend on my right side hate caterpillar. By rogue, we search a caterpillar image on google image search in both of our computer. After we found the picture, we zoom one of the caterpillar picture till full zoom.
After we finish zooming, we face our monitor to my friend on my right side. Then we shaut, "Rania look! There's a big caterpillar on our monitor! Help! I started to itch! take it off from my monitor!" and my friend on my left side shout, "Help me! No! Take that thing away from me!" Then some of my friends surrounding us, me and my friend on my left side.
After we finish zooming, we face our monitor to my friend on my right side. Then we shaut, "Rania look! There's a big caterpillar on our monitor! Help! I started to itch! take it off from my monitor!" and my friend on my left side shout, "Help me! No! Take that thing away from me!" Then some of my friends surrounding us, me and my friend on my left side.
#WayToDie: Main
21:15
“bu,
apakah ibu membelikan es krim yang aku pesan?” tanya Genta saat melihat
ibunya memasuki dapur, ketika memasuki dapur ibunya membawa tiga buah
kantong plastik berwarna putih. Sebuah kalender tergantung di dinding
dapur, angka “dua” yang berukuran cukup besar terpampang bertanda awal
bulan. Hari itu ibunda Genta memang baru saja membeli keperluan bulanan
mereka, sedangkan Genta dan adiknya Tri menunggu di rumah. Genta adalah
anak laki-laki berumur sepuluh tahun, sedangkan adiknya baru berusia
enam tahun.
“pasti dong, mana mungkin ibu lupa.” Ibunda
Genta tersenyum seraya melirik anaknya. “asik, dimana bu es krimnya?
Biar aku taruh di lemari es.” Genta merayu seraya menoleh ke adiknya.
Mereka saling melempar tatapan dan senyuman nakal, ada sebuah rencana di
kepala mereka. “es krimnya di kantong plastik yang di atas meja makan,
ibu masukin kotak. Sebelum dimasukin ke lemari es, kamu buang dulu
kotaknya ya Genta.” Ibunya berkata tanpa menoleh ke arah Genta. “baik
bu.” Tutup Genta. Tanpa banyak bicara lagi Genta menarik adiknya menuju
meja makan, mereka segera mengeluar es krim dari kantong plastik yang
cukup besar. Genta-lah yang bertugas memindahkan sekotak es krim ke
dalam lemari es, ia sempat melirik ke arah adiknya seperti memberi
sebuah aba-aba. Tri segera berlari keluar dengan cepat tanpa
sepengetahuan ibunya, dan ketika Tri sudah menghilang, Genta pun
menyusul. Rencana mereka berhasil, ibunda Genta dan Tri tidak tahu
mereka membawa kotak yang ia gunakan untuk membawa es krim. Sesungguhnya
bukanlah kotak itu yang menarik perhatian kedua kakak beradik ini, tapi
isinya-lah yang menarik perhatian mereka.
Genta berlari ke teras, dimana Tri sudah
menunggunya. Ia memegang kotak yang cukup besar, dan tersenyum ke arah
kakaknya. Alih-alih menghampiri adiknya, Genta malah berlari ke sisi
rumah. Ia mengambil sebuah baskom plastik yang sudah tidak lagi
terpakai, dan ia mengisi air ke dalam baskom itu. setelah air yang ia
isi dirasa cukup, Genta membawa baskom berisi air itu ke Tri yang
menunggu di teras rumah. “nih airnya, yuk sekarang kita main.” Ujar
Genta dengan nada riang gembira. Tri memasukan tangannya ke dalam kotak,
ia merogoh-rogoh selama beberapa saat. Hingga akhirnya ia mengangkat
tangannya, ia menggenggam sesuatu. Sesuatu yang membuat mereka terlihat
sangat gembira, sesuatu yang biasa mereka mainkan saat ibu mereka
membelikan es krim. Tri memegang sebuah benda berwarna putih pucat, dan
berbentuk persegi panjang yang cukup besar. Tri sepertinya mengalami
kesulitan saat memegang benda itu, beberapa kali ia mengganti tangannya.
Ia merasakan sensasi dingin dan kesemutan di saat yang sama, tetapi
lama kelamaan ia merasa seperti terbakar. Dengan cepat ia memberikannya
kepada Genta, dan setelah menerimanya. Genta mengangkat tangannya dan
menjatuhkan benda itu hingga pecah menjadi beberapa bagian, ia
mengumpulkan pecahan-pecahannya. Dua buah pecahan besar, dan beberapa
yang kecil. Genta memberikan salah satu pecahan yang berukuran besar
kepada Tri, ia sangat senang menerimanya. Sesaat setelah ia menerima
benda itu, ia menaruhnya ke dalam baskom berisi air, ketika benda itu
menyentuh air. Benda itu menghasilkan gelembung-gelembung putih yang
ketika terpecah menghasilkan kabut. Tri sangat senang melihat itu,
beberapa kali ia meniup uap yang keluar dari dalam air. Ia tersenyum,
“asik ya kak kalo main biang es.” Ujarnya.
Sedangkan Genta hanya memegang-megang biang
es bagiannya, ia bosan memainkannya dengan air. Ia sedang memikirkan
cara baru, tapi ia tidak juga menemukannya. Lama kelamaan Genta
merasakan bosan, ia agak iri dengan adiknya yang terlihat sangat
bersenang-senang. Ide usilnya muncul tiba-tiba, ia menempelkan pecahan
kecil biang es miliknya ke leher adiknya.
Ketika biang es itu menyentuh kulit leher
Tri, ia menggerakan tangannya untuk menampik biang es yang menempel di
lehernya dengan cepat. “sakit kak.” Protes Tri. Tapi Genta semakin
senang melihat adiknya yang duduk di depannya marah-marah, saat Tri
berbalik badan. Ia kembali menempelkan biang es itu, dan seketika itu
kembali ditepis oleh Tri. “kakak. Sakit tau.” Nada suara Tri mulai naik,
ia sepertinya jengkel oleh ulah Genta. Kemudian ia kembali memainkan
kabut di baskom airnya. Genta benar-benar merasa bosan, ia bingung.
Sebuah ide muncul di kepalanya, ia mengambil pecahan biang es yang cukup
besar, lalu mengigit biang es itu. rasa geli menyeruak di giginya,
membuat tubuhnya merinding. Ternyata ia menyukai sensasi itu, ia
tertawa-tawa kecil. Tapi Tri sama sekali tidak menghiraukannya, ia masih
asik dengan mainannya sendiri. Tapi kemudian Genta kembali menempelkan
pecahan biang es yang berukuran kecil ke leher Tri, kesabaran Tri
sepertinya sudah habis. Ia menyikut Genta yang duduk di belakangnya
dengan keras, dan hantaman siku itu mengenai mulutnya yang sayangnya
membuat biang es yang ia gigit terlepas lalu meluncur ke dalam
tenggorokan Genta. Seketika itu Genta tersedak karena biang es itu
menempel di tenggorokannya, lapisan biang es yang sangat dingin
mencengkram kuat dinding tenggorokan Genta.
Genta tersentak ke belakang, tenggorokannya
seketika itu terasa tercekik. Ia tidak bisa berbicara, dan hanya bisa
meringis menahan rasa sakit hingga menghasilkan suara serak yang
putus-putus. Kedua tangannya terus memegangi lehernya, ia berusaha keras
menelan biang es itu. tapi sia-sia saja, air liurnya yang mengalir di
tenggorokannya justru membuat bias es itu mencengkram lebih kuat dan
berubah menjadi gas. Tri kaget mendengar suara serak yang keluar dari
mulut kakaknya, dan ketika ia berbalik ia menemukan kakaknya tengah
terduduk seraya memegangi lehernya. Tubuh Genta menggelepar tidak
terkendali, Tri mencoba menyelamatkan kakaknya. Tapi ia tidak tahu harus
berbuat apa, kakaknya sama sekali tidak bisa berbicara. Genta hanya
menatap dengan mata terbelalak, dan air mata mengalir pelan-pelan ke
pipinya. Bola mata Genta memerah, darah memenuhi bola matanya. Tri
mencoba menarik tangannya untuk melihat keadaan leher kakaknya, ketika
kedua tangan Genta terlepas. Ia sangat terkejut melihat leher Genta yang
sudah biru kehitam-hitaman, dan menggelembung. Beberapa urat-urat saraf
di leher Genta mulai terlihat berbayang di kulit lehernya yang
menghitam. Tangan Genta meraih-raih ke udara, sepertinya ia butuh
pertolongan. Bagaimana tidak, rasa sakit yang luar biasa menyebar ke
seluruh tubuhnya. rasa perih dan terbakar. Keringat Genta mengucur deras
membuat basah pakaiannya, ia sedang dalam perjuangan antara hidup dan
mati. Melihat hal itu Tri semakin ketakutan, tapi ia tidak bisa berpikir
apa-apa melihat kakaknya meregang nyawa. Pikiran anak perempuan itu
kosong, seluruh tubuhnya gemetaran melihat rasa sakit yang tergambar
dari bola mata kakaknya yang sudah dipenuhi darah. Penglihatan Genta
sudah mulai buram, ia tidak dapat melihat dengan jelas. Darah segar
keluar dan meletup-letup dari mulutnya, dan membasahi tubuh dan
pakaiannya. Sedangkan leher Genta semakin membesar, gas yang keluar dari
biang es yang berada di dalam lehernya membuat lehernya terus membesar.
Akibat kesulitan menelan, mulut Genta menghasilkan air liur yang
semakin banyak. Sayangnya hal ini membuat gas yang keluar dari biang es
itu semakin banyak. Leher Genta sudah terlihat sangat besar, kulitnya
terlihat semakin menipis karena tidak lagi bisa menahan gas di dalamnya.
Seperti balon yang terlalu banyak diisi udara. Tri hanya bisa
menggerak-gerakan tubuh kakaknya, dan itu tidak menolong apa-apa. Tangan
Genta meremas lengan Tri, ia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada
suara yang keluar dari mulutnya selain batuk akibat darah segar yang
mengalir deras dari dalam mulutnya.
Mungkin saat itu Genta bermaksud ingin mengatakan bahwa ia sudah tidak kuat lagi…
Leher Genta sudah berukuran sangat besar,
hingga akhirnya kulitnya tidak lagi dapat menahan. Suara ledakan yang
cukup kencang memecah kepanikan itu. darah dan potongan kulit menyembur
ke udara, dan mengenai Tri yang duduk di hadapan Genta. Leher Genta
meledak seperti balon yang ditusuk jarum, ledakan itu memuntahkan darah
segar dan serpihan-serpihan kulit leher Genta. Tubuh Tri gemetaran,
darah dan serpihan kulit leher Genta pelan-pelan menuruni wajahnya dan
menetes ke lantai. Jantung Tri berdetak kencang, dan napasnya
tersengal-sengal. Beberapa detik kemudian ia membuka matanya, dan
seketika itu ia tersentak ke belakang. Ia menemukan mayat kakaknya sudah
terbujur di lantai dengan leher yang hancur, ledakan itu meninggalkan
lubang besar di leher Genta. Memperlihatkan kerongkongannya yang hancur
berkeping-keping, Tri kemudian menoleh ke lantai. Ia menemukan jakun
kakaknya berdenyut-denyut di kubangan darah segar. kabut yang berasal
dari gelembung-gelembung biang es yang tenggelam dalam kubangan darah di
kerongkongan Genta membuat mayat Genta terlihat sangat artistik, namun
sayangnya hal itu membuat Tri berteriak semakin keras. Suara teriakan
yang begitu nyaring menggema di teras rumah mereka…

