“Adi,
main yuk.” Ujar Tono, ia meneriaki Adi dari luar rumahnya. Hari itu
cuaca sepertinya sangat cerah, cahaya matahari bersinar terang dan angin
berembus pelan. membawa sebuah kesegaran yang membuat siapapun ingin
keluar rumah untuk bermain, tapi hari itu sepertinya bukan hari yang
ingin dilewati dengan bermain bagi Adi. Tono yang mengajaknya bermain,
ia tolak mentah-mentah. Akhirnya Tono pergi meninggalkan rumah Adi
dengan wajah yang murung, ia menunduk saat berjalan dan menendang
batu-batu kecil yang ia temui di atas tanah. Beberapa hari yang lalu
ayah Adi baru saja membelikannya sebuah gitar, alat musik yang sangat ia
inginkan. Ketertarikannya kepada alat musik petik ini sangat besar, ia
sudah senang memainkan gitar semenjak kecil dan mulai belajar saat
umurnya menginjak tujuh tahun. Semakin ia beranjak besar, ia semakin
tertarik. Hingga saat ulang tahunnya yang ke sebelas ia meminta hadiah
sebuah gitar akustik kepada ayahnya, walaupun awalnya ayahnya menolak.
Tapi setelah ia merayu ayahnya, akhirnya ayahnya pun membelikan sebuah
gitar akustik. Ia sangat senang, dan semenjak itu ia terus berlatih
unutk memainkan gitar di kamarnya. Ia jadi jarang keluar kamarnya,
ketika teman-temannya mengajaknya bermain. Ia menolaknya, ia ingin
segera pulang dan kembali belajar bermain gitar. Beberapa lagu
kesayangannya dapat ia mainkan dengan baik, tidak sia-sia usahanya
selama ini pikirnya.
Hingga pada suatu hari, ia tidak menemukan
gitarnya saat ia pulang sekolah. Ia kalut, dan panik. Ia segera turun
dari lantai dua untuk menanyakan kepada ibunya kemana gitarnya pergi.
“gitar kamu tadi di bawa sama Rudi sebentar, sedikit lagi juga pulang.”
Ujar ibunya yang tengah memasak. Adi kesal, lagi-lagi kakak laki-lakinya
membawa gitar kesayangannya. Seharian itu Adi gelisah, ia menyuruh
ibunya menelpon kakaknya untuk segera pulang agar ia dapat memainkan
kembali gitarnya. Namun pukul tujuh malam kakaknya baru pulang, tanpa
basa basi lagi. Adi langsung mengambil gitarnya, dan masuk ke dalam
kamarnya. Ia duduk di atas kasur dan mulai memetik gitarnya, ia
memainkan lagu yang sedang ia pelajari beberapa hari ini. namun ternyata
ada yang salah dengan suara gitarnya, ketika ia memainkan kunci-kunci
yang ia pelajari. Bunyi yang dihasilkan sama sekali berbeda, ia mencoba
mengulangnya beberapa kali tapi hasilnya tetap sama. Adi dongkol, pasti
kakaknya melakukan sesuatu pada gitar kesayangannya. Ia mencoba memetik
satu persatu senar gitarnya, ternyata bunyinya berbeda. Gitarnya fals.
Mendapati kenyataan itu Adi semakin kesal, ia memang tahu bahwa senar
gitarnya fals. Tapi ia belum bisa menyetemnya sendiri, kemampuannya
mengukur nada belum baik. Tapi karena ia sudah tidak sabar ingin
memainkan gitar itu lagi, ia pun mencoba menyetem gitar itu sendiri
dengan kemampuan yang ia punya.
Ia mulai memetik senar yang berada di posisi
paling atas, senar enam. Beberapa kali ia memetiknya dan mendengarkan
suaranya perlahan-lahan, lalu ia memutar tuas senar yang berada di ujung
leher gitarnya. Ia memutarnya ke atas dan kebawah sampai ia menemukan
nada yang pas, dan ternyata berhasil. Adi semakin bersemangat, ia pun
berpindah ke senar lima. Ia menyesuaikan nada senar enam dan lima, dan
setelah beberapa menit memutar tuas. Ia berhasil, senyum Adi semakin
sumringah. Ia kembali mencobanya ke senar selanjutnya dan berhasil. tapi
ketika ia sampai di senar tiga, ia menemukan kesulitan. Nada yang ia
putar tidak juga sesuai dengan senar empat di gitarnya, tidak mau
menyerah, ia pun terus memutar tuas gitarnya hingga ke nada tinggi.
Ternyata masih tidak sesuai, aneh sekali pikirnya. Mungkin tuasnya
rusak, pikir Adi. Ia kemudian mengangkat badan gitarnya dan mengintip
lubang kecil di tuas gitar dari deretan senar, ia ingin melihat apakah
bekerja dengan baik atau rusak. Sementara matanya mengintip, tangannya
memutar tuas gitar untuk mencari nada yang pas, tapi belum berhasil
juga. Hingga ia pun kesal, ia memutar tuas itu terus menerus hingga ke
nada tinggi karena nada yang diinginkan tidak juga ia temukan.
Tuas yang ia putar semakin terasa berat, tapi ia terus saja
memutarnya hingga nada yang dihasilkan terlalu tinggi tanpa ia sadari.
Ketika tuas gitarnya hendak sampai di posisi nada tertiggi, tiba-tiba
Adi mendengar suara gemeretuk dari tuas gitarnya. Matanya yang masih
mengintip tuas gitar langsung menyadari apa yang terjadi, senar yang ia
putar putus seketika. senar itu terputus di bagian tengah, hingga bagian
yang putus terpental ke arah yang berbeda. Sayangnya salah satu senar
yang putus terlempar ke arah mata Adi, seketika ujung senar yang
terputus itu menancap ke bola mata Adi yang tengah mengintip. Ujung
senar itu sangat tajam, setajam mata kail. Senar itu menancap cukup
dalam ke bola mata Adi, kelopak matanya secara refleks tertutup. Namun
terlambat, senar itu sudah menancap kuat di bola matanya. Adi tersentak,
ia merasakan rasa perih yang teramat sangat di bola matanya, ia
beranjak dan menggeliat tanpa kendali. Membuat senar yang masih menancap
di bola matanya terangkat, senar itu masih mengikat pada gitarnya.
Darah mulai mengalir dari balik kelopak mata Adi yang tertutup, darah
itu semakin lama semakin deras mengalir. Pelan-pelan darah menuruni
senar gitar yang menancap di bola matanya hingga menetes di gitarnya
yang terangkat-angkat. Kapala Adi terasa sangat sakit akibar nyeri di
bola matanya, senar yang mengait di bola matanya menggesek-gesek
saraf-saraf matanya dan menghasilkan rasa perih yang berubah seperti
rasa terbakar. Tubuh Adi gemetaran, dan keringat mengucur deras.
Jantungnya juga berdetak cepat. Ia memegangi senar itu, dan berusaha
melepaskannya. Tapi ternyata tidak semudah yang ia kira, gitar yang
menggelayut karena senar itu menancap dimatanya membuat bola matanya
bergerak maju dan merobek saraf-saraf retinanya. Adi bergerak tanpa
kendali, tubuhnya terhuyung ke belakang. Ke arah jendela yang terbuka
dan ia tidak menyadari itu. Adi tersandung oleh bola basket yang
tergeletak di lantai kamarnya, ia tersentak ke belakang dan terlempar
dari jendela yang terbuka. gitarnya bergerak mengikutinya karena senar
yang masih mengikat mereka berdua. tapi saat tubuh Adi melayang dari
jendela, gitarnya tersangkut di kaki meja belajarnya. Senar itu pun
menarik bola mata Adi seketika itu hingga terlepas dari kelopaknya,
darah membuncah ke udara. Tubuh Adi melayang kebawah, dan menghantam
pagar besi berujung lancip sepeti mata belati. Tubuh Adi menancap di
atas pagar yang berujung lancip seperti sederetan pisau belati, dua mata
pagar menembus punggungnya. Satu di bagian tengah, dan yang lain di
sisi punggungnya. Darah mengalir merayapi pagar itu pelan-pelan, dan
saat itu juga Adi tidak lagi bergerak. Luka akibat tancapan pagar itu
semakin lama mengeluarkan darah yang berwarna merah pekat, dan
menetes-netes ke tanah. Tubuh Adi tersangkut di atas pagar rumahnya, di
atas tubuh Adi bola matanya masih menggantung di senar yang mengaitnya.
Darah dari bola matanya menetes-netes ke wajah Adi yang terlentang, dan
menghadap ke bawah. Bola mata itu sempat beberapa kali bergerak, memutar
ke kanan dan kiri. Hingga akhirnya tidak bergerak sama sekali.
0 comments:
Post a Comment